Sabtu, 02 Juni 2012

SPIRITUALITAS FRANSISKAN: MAKNA KERJA MENURUT FRANSISKUS DARI ASSISI (Oleh: Erick M. sila)

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Homo Laborens, manusia adalah mahkluk yang bekerja. Ungkapan ini mau menandaskan bahwa kerja tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Kerja merupakan suatu ciri hakiki dari manusia. Kerja merupakan rahmat yang harus dihidupi dan dihayati dalam hidup sehari-hari. Dengan bekerja, manusia mengembangkan dirinya sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. Yesus Kristus sendiri telah menunjukkan teladan hidup bukan hanya melalui kata-kata-Nya, melainkan juga melalui karya-karya-Nya. Salah satu tokoh Abad Pertengahan yang mewujudkan penghayatan ini adalah Santo Fransiskus dari Assisi. [1] Santo Fransiskus adalah sosok yang secara konsekuen berusaha meniru cara hidup Yesus Kristus sendiri. Gerakan Fransiskus muncul pada zaman di mana kota sedang berkembang, zaman perserikatan para buruh, zaman para pedagang dan bank-bank. Kaum kapitalis dan para pedagang kaya memainkan peranan penting dalam bidang ekonomi. Mereka menggantikan sistem perekonomian barter dengan sistem ekonomi yang didasarkan pada uang. [2] Kekuatan kapitalis semakin terarah kepada keinginan untuk memiliki tanah dan untuk itu perlu pekerja demi meraih keuntungan. Kaum kapitalis memiliki modal dan tenaga kerja. Dalam abad ke-15 bunga tinggi yang diminta oleh para pemilik bank terhadap rakyat kecil mengakibatkan banyak orang terjerat hutang dan menimbulkan malapetaka besar. [3] Fransiskus sama sekali tidak mengikuti cara pikir zaman itu. Ia memiliki pandangan yang lebih Injili dan lebih “modern” dari pada teman-teman sezamannya. [4] Kerja yang disarankan Fransiskus adalah kerja yang biasa dalam masyarakat sesuai dengan panggilannya. Kerja itu membangun sebuah masyarakat yang antusias yang condong kepada realisasi nilai rohani, etis, intelektual yang unik sebagai anugerah Allah. Fransiskus memiliki pandangan berbeda dengan kaum kapitalis yang hanya memikirkan hasil dan untung. Kerja menurut Fransiskus berdasar pada keberadaan, kualitas hidup, dan bukan untuk persaingan serta memiliki segala sesuatu. Fransiskus mengatakan kepada saudara-saudaranya, “Hendaklah tiap-tiap orang tetap pada ketrampilan dan tugasnya, seperti waktu ia dipanggil”. [5] Fransiskus juga mengizinkan para saudara untuk menjalankan ketrampilan professional “Saudara-saudara yang tahu menjalankan suatu pekerjaan, haruslah bekerja, dan mereka boleh tetap menjalankan keterampilan yang sudah mereka ketahui, jikalau tidak bertentangan dengan keselamatan jiwa, dan dengan pantas dapat dijalankan.” [6] Ajarannya tentang pekerjaan dijelaskan dalam Anggaran Dasarnya [7] yakni Anggaran Dasar Tanpa Bulla Pasal VII: Cara Mengabdi dan bekerja dan Anggaran Dasar Dengan Bulla Pasal V: Cara Bekerja. Oleh karena itu, harus ditanamkan kepada masyarakat, sebab ide kerja ini terinspirasi dari masyarakat. Karena itu, setiap saudara sebenarnya ada dan berada untuk orang lain: mereka hendaknya menjadi “pelawak Tuhan”, [8] mengambil hati banyak orang dan mengarahkannya kepada kegembiraan. Aktifitas para saudara ialah membimbing manusia untuk menikmati hidup sebagai rahmat Allah.
BAB II MAKNA KERJA MENURUT FRASISKUS ASSISI A. Manusia dan Kerja 1. Latar Belakang Biblis Panggilan terhadap manusia untuk bekerja didasarkan pada Kitab Suci khususnya Kitab Kejadian. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Ketika Allah menciptakan manusia – laki-laki dan perempuan [9] - Ia berfirman: “Sungguh amat baik”. [10] Lalu Allah meberkati mereka, dan berfirman: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; taklukkanlah bumi itu, berkuasalah atas ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. [11] Memang perintah untuk bekerja tidak secara eksplisit dinyatakan dalam ayat-ayat Kitab Kejadian tersebut. Tetapi, dari ayat-ayat tersebut kita dapat menemukan perintah yang mengacu pada kerja, yakni perintah yang harus dilaksanakan di dunia sebagai citra Allah. [12] Dengan melaksanakan perintah itu, manusia memerankan Allah yang bekerja. [13] Kerja merupakan pelaksanaan perintah Allah yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia. Kerja merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dari makhluk ciptaan yang lain, sebagaimana ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya, Laborem Exercens. Dalam ensiklik tersebut, ia menegaskan bahwa hanya manusialah yang bekerja dan tidak setiap kegiatan untuk melestarikan hidup disebut kerja. [14] Melalui karyanya, manusia mengisi dan mengembangkan dirinya di dunia. Perintah untuk bekerja juga ditegaskan oleh rasul Paulus, “Tiap-tiap orang harus tinggal dalam pertukangan dan jabatan seperti waktu ia dipanggil”. [15] Kemudian kata sang rasul: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. [16] Sebab, Kristus sendiri bekerja dan membaktikan sebagian hidup-Nya bagi kerja tangan pada bangku tukang kayu. [17] “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”. [18] Oleh sebab itu, kerja adalah tugas mulia yang harus dihayati dalam kehidupan sehari-hari bersama orang lain di dalam Allah. Rahmat manusiawi itulah yang menentukan ciri-ciri batin kerja dan dalam arti tertentu kerja memperoleh hakekatnya. 2. Kerja dan Martabat Pribadi Dengan bekerja manusia mengembangkan diri menjadi manusia yang berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesamanya. Sebagai pelaksana kerja, manusia tidak seorang diri tetapi demi dan bersama orang lain. Maka, sangatlah penting untuk memperhatikan secara lebih seksama mengenai martabat kerja manusiawi sebagai tugas mulia yang diberikan Allah kepadanya. Allah bermaksud agar kerja memampukan manusia mencapai “kedaulatan” dalam dunia yang kelihatan sebagaimana layak baginya. Maksud Allah yang mendasar dan asli mengenai manusia, yang diciptakan menurut citra-Nya tidak dibatalkan walaupun manusia telah melanggar perjanjian asli dengan Allah. Perintah: “[…] dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu”. [19] Pernyataan ini bukan berarti bahwa Allah membatalkan sabda-Nya, tetapi mau menegaskan bahwa manusia akan selalu berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Susah payah dalam kerja bisa dan biasa terjadi dan dialami oleh orang yang bekerja dan kadang-kadang memang amat berat untuk dilakukan. Santo Thomas mengatakan bahwa sesuatu yang baik harus dicapai dengan bekerja keras, “Bonum Arduum”. [20] Baik bukan berarti menyenangkan dan berguna, melainkan kerja merupakan sesuatu yang layak atau sesuai dengan martabat manusia. Manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan juga menjadiakan manusia itu lebih manusiawi. 3. Kerja Sebagai Partisipasi dalam Karya Ciptaan Konsili Vatikan II menegaskan bahwa, manusia melalui kerja tangan maupun tehnologi mengolah alam, harus berusaha agar dapat menghasilkan buah sebagai yang layak bagi umat manusia. Dengan demikian, manusia sadar melaksanakan perintah Allah yang dimaklumkan pada awal mula, yakni menaklukkan dunia serta menyempurnakan alam ciptaan dan mengembangkan dirinya. [21] Kerja sebagai partisipasi dalam karya ciptaan Allah nyata dalam kebenaran asasi manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kenyataan itu didasarkan pada Kitab Suci, Kitab Kejadian, yang memuat karya ciptaan Allah dalam bentuk “kerja” yang dilakukan Allah selama enam hari, [22] dan pada hari yang ketujuh Ia beristirahat. [23] Manusia harus memahami bahwa Allah mencipta secara evolutif, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang […]” [24] dan masih meneruskan ciptaan dunia. Pengikutsertaan dalam kerja dapat dihayati sebagai suatu keterlibatan diri secara kreatif bersama dengan Allah, untuk melaksanakan rencana-Nya mengenai dunia dan umat manusia. [25] Dengan bekerja, manusia ikut ambil bagian dalam ciptaan Allah, ikut memenuhi kebutuhan sesama saudara, menyumbangkan kegiatannya demi terlaksananya rencana Allah. B. Kerja bagi Fransiskus 1. Kerja sebagai Rahmat Pemberian Allah Anggaran Dasar dengan Bulla pasal V mengatakan bahwa: Saudara-saudara, yang diberi karunia oleh Tuhan untuk bekerja, hendaknya bekerja dengan setia dan bakti; sedemikian rupa, sehingga mereka sambil mencegah diri dari sikap bermalas-malas yang merupakan musuh jiwa, tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian suci, yang kepadanya harus diabdikan hal-hal lainnya yang duniawi. Dan sebagai upah kerja, mereka hendaknya menerima apa yang merupakan kebutuhan hidup, baik bagi diri sendiri maupun bagi saudara-saudaranya, kecuali uang berbentuk apa pun; itu pun harus dengan sikap rendah, seperti seharusnya bagi hamba-hamba Allah dan penganut kemiskinan yang tersuci. Kerja merupakan rahmat karena manusia dan seluruh kegiatannya, sejak awal mula, diterima sebagai “rahmat gratis Allah”. [26] Fransiskus mengatakan “Saudara-saudara diberi karunia oleh Tuhan untuk bekerja”. [27] Dalam hal-hal lain, Fransiskus mengunakan karta ‘gratia’ (diterjemahkan ‘karunia’ atau ‘rahmat’; juga syukur). [28] Konsep original dan Injili kerja sebagai rahmat, harus dipraktekkan dalam kehidupan nyata, sebab kekayaan kerja itu sebagai anugerah Allah. “Fransiskus dan para saudara mengarahkan diri pada pekerjaan baik dan penuh damai; mereka tidak melakukan sesuatu yang bertentangan atau menimbulkan skandal, melainkan selalu mengusahakan atau melakukan hal-hal yang suci, tulus dan berguna”. [29] Nilai kerja sebagai rahmat selalu ditempatkan di hadapan kemiskinan, dianggap sebagai anugerah kelayakan bagi manusia dan dilakukan bagi orang lain. [30] Dalam memahami kerja sebagai rahmat, Fransiskus menempatkan sesuatu yang lebih tinggi yakni hubungan antara kerja dan doa. Para saudara “hendaknya bekerja dengan setia dan bakti sedemikian rupa sehingga mereka tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian suci”. [31] 2. Mengabdi Tuhan dan Sesama Sejak awal ciptaan, Allah telah menugaskan manusia untuk bekerja. Ketika manusia ditempatkan oleh Allah di taman Eden, tugas itu telah diberikan yakni untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. [32] Tuhan Yesus dan para murid telah memberikan teladan kepada kita untuk bekerja. “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga”. [33] Fransiskus lewat teladan Yesus Kristus, merasa senang atas irama yang indah dari gesekan kayu pepohonan, serta gesekan batang gandum pada kaki tatkala ia bekerja. [34] Fransiskus tidak senang melihat kekacauan dan ketidakteraturan dalam alam ini. Maka ia menyingsingkan lengan bajunya, satu per satu batu besar dan kecil disusnnya secara rapi dan teratur. [35] Demikianlah ia menyelesaikan gereja Santa Maria Para Malaikat di Portiunkula. Fransiskus sangat mencintai segala sesuatu yang berkenaan dengan alam ciptaan Tuhan. Melalui pekerjaan manusia mengabdi kepada Tuhan dan sesama, sebab Allah menghendaki agar kita menjadi manusia utuh dan lengkap dengan semua yang khas dan hakiki dalam diri manusia. Dengan demikian, humanisasi dinyatakan, diungkapkan, dan dihidupi sebagai bentuk pelaksanaan kehendak Allah. Maka melalui kerja, konkritisasi cinta atas nilai-nilai kemanusiaan merupakan pemaknaan hidup religius hidup manusia. [36] Kerja dapat dihayati sebagai partisipasi diri secara kreatif bersama Allah, untuk melaksanakan rencana-Nya mengenai dunia dan umat manusia. Dengan bekerja manusia menyumbangkan sesuatu bagi kepentingan bersama atau komunitas. Untuk itu, yang mau dikatakan ialah bahwa lewat kerja manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan pribadinya saja, melainkan untuk kepentingan bersama. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Fransiskus dan para saudaranya biasanya bekerja. Dengan membantu para petani di ladang, mereka memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk mereka sendiri maupun untuk para teman perjalanan mereka. [37] Fransiskus dan para saudaranya hidup dalam kerendahan; mereka tidak mencintai diri sendiri dengan cinta egoistis, melainkan mereka melakukan suatu pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya tanpa pandang bulu. [38] Melalui pekerjaan, manusia membangun relasi dengan sesamanya tanpa membeda-bedakan. Kenyataan bahwa manusia tidak mungkin hidup seorang diri tanpa orang lain. Maka melalui kerja, manusia melayani sesama sekomunitas sambil mengamalkan cinta kasih Kristus. 3. Kerja dan Ketiga Kaul Religius 3. 1 Kerja dan Ketaatan Kerja merupakan peraturan hidup para saudara yang harus ditaati. Pada bagian penutup Anggaran Dasar Dengan Bulla ditegaskan bahwa: Karena itu, tak seorang pun dibenarkan melanggar piagam peneguhan kami ini atau berani mencoba berbuat demikian, maka hendaklah orang itu mengetahui, bahwa ia akan tertimpa murka Allah Yang Mahakuasa serta rasul-Nya, yang kudus Petrus dan Paulus”. [39] Dari bagian penutup Anggaran Dasar ini mau menegaskan bahwa setiap peraturan yang telah termuat di dalamnya, harus ditaati oleh para saudara. Temasuk di dalamnya perihal kerja dan ketentuan-ketentuannya. Fransiskus menganjurkan kepada para saudaranya untuk mengerjakan pekerjaannya dengan setia dan bakti, serta tunduk dan taat kepada semua orang. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, para saudara hendaknya menjadi “lebih rendah dan tunduk kepada semua orang yang tinggal di rumah itu”. [40] Melalui ketaatan yang suci, para saudara memberikan diri sebagai tebusan dengan melakukan pekerjaan yang baik dan berguna untuk keperluan para saudara dan tidak melakukan sesuatu pun di atas perintah-perintah ketaatan. [41] Para saudara bahkan sudah siap melaksanakan perintah itu sebelum perintah itu selesai diucapkan. Perintah Fransiskus mereka laksanakan dengan senang hati bagaikan perintah dari Tuhan sendiri. 3. 2 Kerja dan Kemiskinan Pekerjaan para saudara dalam Anggaran Dasar dilihat sebagai fungsi persaudaraan dan kedinaan yakni hendaknya para saudara bekerja sebagai hamba di rumah-rumah orang kaya tanpa mengejar karier, kedudukan atau jabatan dalam masyarakat. Mereka hendaknya menjadi “lebih rendah dan tunduk kepada semua orang yang tinggal di rumah itu”. [42] Pada abad pertengahan, orang yang bekerja adalah orang yang sungguh-sungguh miskin sehingga amat tergantung kepada orang lain. [43] Fransiskus menganjurkan kepada saudara-saudaranya untuk melakukan suatu pekerjaan seperti orang-orang miskin yang tidak memiliki apa-apa, tidak mengejar suatu jabatan, melainkan hanya memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam memilih jenis pekerjaan, ia juga menganjurkan untuk memilih pekerjaan tangan yang sederhana dan lebih rendah. Misalnya, membantu para petani di ladang, membantu waktu panen, mencari dan memotong kayu bakar, serta membantu di panti-panti orang kusta, [44] seperti yang telah dilakukan oleh para saudara. Kami tidak terpelajar dan menjadi bawahan semua orang. Aku bekerja dengan tanganku (waktu itu), dan (kini pun) aku mau bekerja; juga aku sungguh-sungguh menghendaki agar semua saudara lainnya melakukan pekerjaan tangan sebagaimana layaknya. Mereka yang tidak menguasai salah satu pekerjaan, hendaklah belajar. [45] Para saudara tidak boleh mengerjakan suatu pekerjaan yang merugikan jiwanya dan yang tidak sesuai dengan cara hidup. Pekerjaan yang dimaksudkan oleh Fransiskus adalah pekerjaan yang tidak berhubungan dengan uang dan kekuasaan. Pekerjaan yang dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Upah yang diterima juga bukan berupa uang melainkan berupa barang atau makanan. Sebab katanya “Uang bagi hamba-hamba Allah, hai saudara, tidak lain dari pada setan dan ular berbisa”. [46] Demi cinta akan kemiskinan yang suci, maka hamba Allah Yang Mahakuasa lebih suka hidup dari sedekah daripada sumbangan yang ia terima begitu saja. Dalam hal kemiskinan, ia ingin melebihi hal-hal lain dengan menganggap dirinya lebih dina dari semua. [47] Saudara semuanya harus berusaha mengikuti kerendahan hati dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus […] Dan bila perlu, mereka hendaknya pergi meminta sedekah. Janganlah mereka, tetapi lebih baik mereka ingat, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup dan yang Mahakuasa, membuat wajah-Nya bagaikan batu yang keras dan tidak pernah merasa malu; ia menjadi miskin, dan penumpang, dan hidup dari sedekah, baik Dia sendiri maupun Santa Perawan Maria serta murid-murid-Nya. [48] Fransiskus menganjurkan dengan keras bahwa meminta sedekah hanya boleh dilakukan apabila imbalan kerja tidak mencukupi. Apabila seseorang melakukannya pada saat tidak membutuhkan, maka dia menipu orang miskin yang berhak atas sedekah. [49] Tentang hal ini ia pernah berkata: “Saya tidak pernah menjadi seorang pencuri, yaitu dari derma, yang merupakan warisan orang-orang miskin. Saya selalu menerima kurang dari pada yang saya perlukan, supaya jangan merampas bagian dari orang-orang miskin yang lain”. [50] Melakukan hal semacam itu adalah pencuri. Sedekah yang diterima dari seseorang harus dipandang sebagai warisan orang miskin sebab kepada mereka diberikan dengan dasar cinta kasih. 3. 3 Kerja dan Kemurnian Kemurnian menurut Fransiskus berarti hati dan pikiran bebas dari segala ikatan duniawi dan dalam segala bidang kehidupan terarah sepenuhnya kepada Allah. [51] Maka hamba Allah menganjurkan bahwa orang harus menjauhkan diri dari pengangguran, sebagai sumber segala pikiran jahat. [52] Lagi dikatakan: “Aku menghendaki, supaya saudara-saudaraku bekerja dan berjerih payah, agar mereka jangan sampai menganggur dan melantur dengan pikiran dan percakapan yang tidak patut “. [53] Alasan asketis dari kerja sedikit saja disinggung dalam Anggaran Dasar daripada arti sosial pekerjaan. Maka pada bagian ini, alasan asketis mendapat perhatian lebih yakni “mencegah diri dari sikap bermalas-malas yang merupakan musuh jiwa”. [54] Fransiskus mengajarkan agar dalam mengerjakan sesuatu tidak “memadamkan semangat doa dan kebaktian suci”. [55] Maka dengan tegas Fransiskus mengatakan bahwa seorang religius harus lebih mengutamakan doa. Tidak seorang pun dapat mencapai kesempurnaan di dalam Allah tanpa rahmat berdoa. [56] 4. Kerja Mengatasi Kemalasan 4. 1 Kerja Sebagai Bentuk Pertobatan Kerja sebagai bentuk pertobatan telah ditunjukkan Fransiskus sendiri melalui cara hidupnya. Dalam riwayat hidup, Thomas dari Celano menceritakan bagaimana Fransiskus sejak masa kecil sampai berumur kira-kira dua puluh lima tahun, menyia-nyiakan waktunya secara menyedihkan. Misalnya, menyanyi keliling kampung, suka pamer, suka mencari kemuliaan sia-sia, lelucon murah dan omong kosong. [57] Fransiskus kemudian sadar dan mulai bertobat. Pekerjaan pertama yang dilakukan Fransiskus pada awal pertobatannya adalah memperbaiki rumah Allah, San Damiano. [58] Fransiskus merasakan depresi yang begitu berat ketika hamba Allah mengenang kembali masa-masa sedih yang ia alami dalam hidupnya. Rasa depresi itu semakin kuat dalam hatinya sehingga ia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Maka ia menyingsingkan lengan bajunya dan masuk dalam pekerjaan fisik yang berat. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Fransiskus mulai merasa lega dan tenang. Demikianlah ia membangun Gereja Santa Maria Para Malaikat di Portiuncula. [59] Berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri, Fransiskus membacakannya wasiatnya kepada saudara Leo demikian: “Saudara Leo, hal ini amat penting. Perhatikanlah baik-baik, Tulislah! Aku bekerja dengan tanganku sendiri dan aku menghendaki para saudaraku untuk bekerja dengan tangan mereka sendiri. [60] Saudara Leo dan saudara-saudaranya juga mengisahkan tentang para perampok yang bertobat. Diceritakan juga bahwa setelah para perampok itu bertobat, ada yang masuk ordo dan ada yang berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi dan berjanji untuk makan dari hasil kerja mereka sendiri. [61] Karena begitu tinggi nilai kerja itu, maka Fransiskus menganjurkan kepada saudara-saudaranya untuk menghindari kemalasan. Jika seorang yang malas dihadapkan kepadanya, maka ia menegurnya dengan keras “sepantasnya Tuhan memuntahkan mereka dari mulut-Nya”. [62] Dengan bekerja, seseorang bertobat meninggalkan cara hidupnya yang lama kepada cara hidup yang baru. Sebab, melalui kerja sesorang dapat mengalahkan keegoisan yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, sikap pelayanan dan pengabdian kepada sesama dan kepada Allah dapat diberikan dengan bebas, damai, dan penuh kegembiraan. 4. 2 Kerja Sebagai Teladan Hidup Dalam wasiatnya, Fransiskus juga memberi alasan lain dari kerja yakni memberikan contoh [63] atau teladan kepada orang lain sebagai sesuatu yang baik, suci, dan berguna. Dengan bekerja, manusia memberi diri, mengabdikan kemungkinannya, energinya, ketrampilannya, kepada orang lain. Maka, kerja adalah bentuk cinta, bentuk perhatian nyata kepada orang lain. [64] Melalui kerja, manusia sadar bahwa dengan bekerja ia menyerahkan diri kepada sesama dan dunia. Oleh karena itu, setiap orang diberi kesempatan untuk bekerja di bidang yang sesuai dengan bakat-bakat pribadi yang ia miliki dengan penuh kegembiraan. Karena itulah seorang fransiskan ada dan berada bersama orang lain. Para saudara hendaknya mengusahakan sebagai “pelawak Tuhan”, [65] untuk merebut hati orang dan mengarahkannya kepada kegembiraan. Teladan kegembiraan dalam kerja yang kita lakukan sebagai contoh bagi masyarakat, akan menarik banyak orang kepada Allah. Sebab kerja bukan untuk membuat orang menderita, melainkan sebagai sesuatu yang mengembirakan. Kerja sebagai contoh bagi orang lain bukanlah suatu bagian tersendiri dalam Anggaran Dasar, melainkan merupakan suatu segi dari cara hidup fransiskan. Dengan mengikuti teladan Fransiskus, mereka mengungkapkan asal usul hidup mereka maupun seluruh tingkah laku mereka. [66] Cara hidup Fransiskus dan para saudaranya tidak membutuhkan penafsiran karena sudah jelas dengan sendirinya. Dengan demikian, akan menarik setiap orang yang terbuka baginya. Kerja merupakan aspek cara hidup saudara dina. BAB III PENUTUP Kerja merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Oleh sebab itu, setiap orang harus bekerja. Sebab, kerja adalah tugas mulia yang diberikan Allah sendiri kepada manusia sejak awal mula dam merupakan suatu rahmat gratis dari Allah. Rahmat itu harus dihidupi dan dihayati dalah kehidupan nyata bersama dengan orang lain dan terarah kepada Allah. Lewat pekerjaan yang kita lakukan, kita ikut ambil bagian dalam ciptaan Allah untuk mewujudkan misi kerajaan-Nya di dunia. Dengan bekerja, manusia diarahkan kepada kegembiraan dan bukan sebaliknya orang menderita karena pekerjaannya. Banyak orang dewasa ini melakukan pekerjaan yang dinilai berdasarkan hasilnya saja. Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka orang akan berlomba-lomba untuk bekerja, dan sering juga mengorbankan orang lain. Padahal manusia harus hidup bersaudara, hidup berdamai dengan sesamanya. Dalam melakukan suatu pekerjaan, manusia tidak lepas dari ikatan dengan Tuhan. Karena itulah Fransiskus mengajak semua orang untuk melakukan pekejaan yang baik serta tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian suci. Itulah arti dan tempat pekerjaan yang sesungguhnya menurut Fransiskus.
CATATAN KAKI: [1]Fransiskus lahir di kota Assisi, Italia tahun 1181 atau awal 1182. Orang tuanya, Pietro Bernardone adalah seorang pedagang kain yang kaya dari Assisi dan Donna Pica, ibunya adalah seorang wanita saleh. Pada usia 25 tahun, Fransiskus meninggalkan segala kemewahan keluarga dan memutuskan hubungan darah dengan orang tuanya dalam sebuah pengadilan terbuka di hadapan Uskup Assisi. Di hadapan Uskup Assisi dan ayahnya serta semua hadirin, ia menanggalkan pakaiannya dan berkata: “Bapa kami yang di Surga”, Dan bukan “bapaku Pietro Bernardone”. Sejak saat itu, ia menjadikan Yesus Kristus yang tersalib sebagai model, dengan memilih hidup miskin sebagai cara hidup. Cara hidup yang radikal dan keras seturut Injil, membuat banyak orang tertarik mengikuti jejaknya. Fransiskus yang berpegang teguh pada Injil, menghayatinya secara ringan, penuh semangat, dan tak kenal lelah. Di gunung Alverna ia mendapat stigmata pada tangan, kaki dan lambungnya, setelah ia berpuasa 40 hari lamanya. Dua tahun seteleh peristiwa stigmata, Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Oktober 1226 di Portiuncula Assisi. Ia dimakamkan di Basilica San Francesco, kota kelahirannya Assisi. Dua tahun kemudian, yakni tahun 1228, oleh Paus Gregorius IX ia dikanonisasi sebagai orang kudus. Makam dan tulangnya masih terawat dengan baik di basilica tersebut sampai sekarang. [Lihat Omer Engelbert, Saint Francis of Assisi: A Biography (Chicago: Franciscan Herald Press, 1965), hlm. 219-223; bdk. Nesta de Robeck, The Life of St. Francis of Assisi (Assisi: Casa Editrice Francescana, 1975), hlm 14; bdk. juga C. Groenen, Fransiskus dari Assisi (Jakarta: Sekafi, 1997), hlm. 12; bdk juga A. Soejitno - Wahyo, Fransiskus dari Assisi (Ende: Nusa Indah, 1976), hlm. 14-17.] [2]N. G. M Van Doornik, Fransiskus dari Assisi: Nabi Masa Kini (judul asli: Franciscus van Asisi, een Profeet voor onze tijd (Jakarta: Vicaria Missionaria OFM, 1977), hlm. 14. [3]Ivan Gorby: Fransiskus dari Assisi (Judul asli: Saint Francois d’ Asisie), diterjemahkan oleh A. Soejitno dan Wahjo (Ende: Nusa Indah, 1976), hlm. 88. [4]L├ízaro Iriarte, Panggilan…, hlm. 103. [5]Kajetan Esser, Karya-karya Fransiskus dari Assisi (Judul asli: Die Opuscula des Hl Franziscus von Asisi), diterjemahkan oleh Leo Laba Ladjar (Jakarta: SEKAFI, 2001), hlm. 118. [6]AngTBul VII: 3. [7]Anggaran Dasar Fransiskus terdiri dari Anggaran Dasar Tanpa Bulla dan Anggaran Dasar Dengan Bulla. Anggaran Dasar Tanpa Bulla adalah peraturan hidup Santo Fransiskus yang mendapat bentuk secara defenitif pada sidang Pentakosta tahun 1221. Bagian-bagian dari Anggran Dasar ini sudah lahir antara tahun 1210 dan 1221. Anggaran Dasar Tanpa Bulla terdiri dari 24 pasal dan merupakan dokumen yang amat panjang. Disebut Anggaran Dasar Tanpa Bulla karena Anggaran Dasar ini tidak diteguhkan (dengan Bulla) dari pihak pemimpin Gereja. Sedangkan Angaran Dasar Dengan Bulla adalah Anggaran Dasar yang mendapat bentuk definitif dan diteguhkan dengan Bulla (surat resmi dari tahkta suci) yang disebut Solet Anuere oleh Paus Honorius III, pada tanggal 29 November 1223. Selanjutnya penulis menggunakan singkatan AngTBul dan AngBul. [Lihat Kajetan Esser, Karya-karya…, hlm. 118; bdk. Juga Wahyo, Wejangan…, hlm. 9-38.] [8]Marino Bigaroni, Legenda Perugina: Kumpulan Cerita dari Assisi Karya Saudara Leo dan Saudara-saudaranya Mengenai Santo Fransiskus Assisi (Jakarta: SEKAFI, 2003), hlm. 156. [9]Kej 1:27. [10]Kej 1:31. [11]Kej 1:28. [12]Paus Yohanes Paulus II, Laborem Exercens (Dengan Bekerja) (Seri Dokumen Gerejawi no. 39), diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 1995), no. 4; bdk juga Antonius Moa, “Jika Seorang Tidak Mau Bekerja Janganlah ia makan”, dalam Petra, 03/XXVI (September – November 2008), hlm. 13. [13]Kej 1:2. [14]Yohanes Paulus II, Laborem…, hlm. 8. [15]Wahyo, Wejangan…, hlm. 14. [16]2 Tes 3:10. [17]Yohanes Paulus II, Laborem…, hlm. 19. [18]Yoh 5:17. [19]Kej 3:19. [20]Yohanes Paulus II, Laborem…, hlm. 26. [21]Konsili Vartikan II, “Kontitusi Pastoral Tentang Tugas Gereja Dalam Dunia Dewasa Ini” (GS), dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Departemen Penerangan KWI, 1992), no. 57. [22]Yohanes Paulus II, Laborem…, hlm. 62; bdk juga Kej 2:2; Kel 20:8, 11 dan Ul 12:14. [23]Yohanes Paulus II, Laborem…, hlm. 62. [24]Yoh 5:17. [25]P. Leenhouwers, Manusia Dalam Lingkungannya: Refleksi Filsafat Tentang Manusia (Judul asli: Men zign, een opgavel Op weg met zichzelf), diterjemahkan oleh K. J Veeger (Jakarta: Gramedia, 1988), hlm. 271. [26]Yohanes Paulus II, Laborem…, hlm. 9. [27]AngBul V: 1. [28]Sigismund Verheij, Ke Negeri Orang-orang Hidup: Anggaran Dasar Fransiskus Assisi Untuk Para Saudara Dina (Judul asli: Near het land de levenden Regel Van Franciscus Asisi voor de Minderbroeders), diterjemahkan oleh Nico Syukur Dister (Medan: Bina Media Perintis, 2011), hlm. 181. [29]Thomas dari Celano, St. Fransiskus dari Assisi: Riwayat Hidup Yang Pertama & Riwayat Hidup Yang Kedua (Judul asli: Vita Prima St. Francisci Assisi & Vita Seconda St. Francisco Assisi), diterjemahkan oleh P. J Wahjasudibja (Jakarta: SEKAFI, 1984), hlm. 25. Selanjutnya penulis menggunakan singkatan 1 Cel dan 2 Cel. [30]1 Cel. 41. [31]AngBul V: 1-2. [32]Kej 2:15. [33]Yoh 15:17. [34]Murray Bodo, Fransiskus: Perjalanan & Impian (Judul asli: The Journey and Dream), disadur oleh Paskalis et.al (Jakarta: Sekretariat Keluarga Fransiskan Indonesia, 2002), hlm. 161. [35]M. Bodo, Fransiskus…, hlm. 161. [36]P. Leenhouwers, Manusia dalam…, hlm. 271. [37]S. Verheij, Ke Negeri…, hlm. 180. [38]1 Cel 39. [39]K. Esser, , Karya-Karya…, hlm. 186. [40]AngTBul VII:2. [41]1 Cel 39. [42]AngTBul VII:2. [43]L. Iriarte, Panggilan…, hlm. 104. [44]S. Verheij, Ke Negeri…, hlm. 181. [45]K. Esser, Karya-karya…, hlm. 195-196. [46]Bonaventura, Riwayat Hidup St. Fransiskus: Kisah Besar (Judul asli: Legenda Maior), penulis menggunakan sumber bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Y. Wahyosudibyo (Jakarta: SEKAFI, 1990), hlm. 44. [47]Bonaventura, Karya-karya…, hlm. 44. [48]AngTBul IX: 3, 4-5; bdk. AngBul VI. [49]L. Iriarte, Panggilan…, hlm. 110. [50]M. Bigaroni, Legenda…, hlm. 30. [51]Wahyo, Wejangan…, hlm. 96. [52]Bonaventura, Riwayat Hidup…, hlm. 29. [53]AngTBul VII. [54]AngTBul VII: 10-12. [55]AngBul V. [56]Bonaventura, Riwayat Hidup…, hlm. 64. [57]1 Cel 1. [58]1 Cel 18. [59]M. Bodo, Fransiskus…, hlm. 161. [60]M. Bodo, Fransiskus…, hlm. 161. [61]M. Bigaroni, Legenda…, hlm. 161. [62]M. Bigaroni, Legenda…, hlm. 66-67. [63]K. Esser, Karya-karya…, hlm. 196. [64]P. Leenhouwers, Manusia Dalam…, hlm. 269-270. [65]M. Bigaroni, Legenda…, hlm. 156. [66]S. Verheij, Ke Negeri…, hlm. 184.

Jumat, 01 Juni 2012

PATROLOGI: PANDANGAN TENTANG ROH KUDUS (Oleh: Erick M. Sila, Ferry Nono, Ruben Afeanpah, Piter Nali, Yohanes Tando)

1. Pengantar Pada tahun-tahun pertama sesudah Konsili Vatikan II, perhataian akan peran Roh Kudus (pneuma) sebagai pribadi ketiga dalam Allah Tritinggal, nampaknya kurang mendapat perhatian. Kesadaran akan peran Roh Kudus sebagai yang melanjutkan komunikasi diri Allah baru nampak pada beberapa dekade terakhir ini dalam semua pernyataan iman Kristiani. Kesadaran ini timbul berkat kontak ekumenis dengan Gereja-gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Reformasi, sebab refleksi atas karya Roh Kudus dalam Gereja Katolik lebih condong untuk memasukkannya dalam traktat Trinitas dan Kristologi. [1] Walaupun demikian, tidak berarti peran Roh Kudus diabaikan sama sekali sejak awal. Pada zaman patristik para bapa Gereja telah mencoba melihat apa peran Roh dalam Gereja dan hidup manusia. Tertulianus merupakan salah satu dari para bapak-bapak Gereja Latin yang mencoba melihat apa hakekat dan peran Roh Kudus tersebut dalam hidup manusia. Tertulianus menegaskan bahwa Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus menyatu dalam substansinya. Namun kesatuan subsantsi ilahi ini terbagi dalam tiga pribadi yakni pribadi Bapa, pribadi Anak dan pribadi Roh Kudus. 2. Riwayat Hidup Tertulianus adalah seorang Afrika Utara yang lahir di Kartago sekitar tahun 160-220 SM. Ia berasal dari keluarga Romawi kafir. Ayahnya seorang perwira tentara Romawi. Ia mendapatkan pendidikan ilmu retorika dan hukum. Orang Kafir ini diduga sempat menjadi ahli hukum selama beberapa tahun di kota Roma. Pada tahun 197 SM, ia bertobat menjadi Kristen dan langsung menjadi seorang Apologet. Di sepanjang hidupnya, ia banyak manghasilkan karya-karya yang bernuansa apologetik melawan kaum kafir dan Yahudi. Pada akhir abad II dan awal abad III ia merintis sastra Kristiani dalam Bahasa Latin. Ia seorang yang sangat pandai, dengan gagasan-gagasannya yang orisinil dan segar. Ia adalah teolog, pujangga Gereja, ahli pidato dan ahli hokum (sipil). Seorang genius, pujangga Gereja terbesar di Barat sebelum Agustinus. Tertulianus adalah seorang yang berkeyakinan kuat dan memiliki kesungguhan moral yang besar. Ia memiliki kemampuan karakteristik dan punya gambaran akan suatu kebenaran yang sempurna. Karena itulah, ia dikenal sebagai pribadi yang benar dan jujur. Ia juga memiliki kemampuan menulis dan karena itulah ia dikenal sebagai salah seorang penulis Kristen awal. Sayangnya, ia kemudian meninggalkan arus utama Gereja Katolik saat itu. Semenjak tahun 207, ia semakin dekat pada gerakan Montanisme [2] dan akhirnya memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik pada tahun 213. Ia mencela paham Lassisme mengenai penitensi, ia juga gigih melawan Marcianus dan Valentinianus. Menurut St. Joremo, ia dikatakan telah hidup sampai usia tua. Ia mungkin meninggal di Kartago pada usia 60 tahun. Sesudah tahun 220 tidak ada lagi informasi mengenai dirinya dan bukti bahwa ia kembali ke Gereja Katolik sebelum dia meninggal. 3. Karya-karya Tertulianus adalah salah satu dari para bapak-bapak Gereja Latin yang banyak menyumbangkan tulisan dan sejumlah pemikiran terkait ajaran Gereja. Di sepanjang hidupnya, ia menulis 20 (Dua puluh) karya bernuansa apologetik melawan kaum kafir dan Yahudi. Ia juga banyak menerbitkan karya-karya yang bersifat dogmatis-polemik melawan kaum gnostik dan heresi lain, serta karyanya yang bernuansa etis dan asketis, misalnya tentang doa, penitensi baptisan. Selain itu, ia juga menghasilkan banyak buku, puluhan traktat, berbagai polemik dan pembelaan ajaran Gereja melawan berbagai ajaran sesat. [3] Karya-karya Tertulianus dapat diklasifikasikan sebagai: Apologetik, Kontroversial, dan Risalah pada disiplin Kristen dan Asketisme. Karya-karyanya dalam membela ajaran Gereja dan heresi, antara lain Ad nations, Apologeticum, De anima, De praescriptione haereticorum, Adversus Marcionem, Adversus Praxean. [4] a) Ad nations Karya Ad nations merupakan apologia melawan penganiayaan melawan orang Kristen. Karya ini memuat prosedur untuk menghukum orang Kristen. Dikatakan bahwa seseorang dianiaya karena nonem Christianum. [5] Penganiayaan terhadap orang Kristen dilakukan tanpa suatu penyelidikan atas motif atau tuduhan yang dikenakan. Perlakuan tersebut dianggap atau dituduh sebagai suatu tindakan kekerasan. b) Apologeticum Karya ini ditujukan kepada prokonsul Kartago dan pemerintah provinsi Afrika. Dalam karya ini, dikemukankan bahwa orang Kristen dianiaya karena kekeliruan dan kebencian. Ini merupakan suatu tudahan orang kafir terhadap orang Kristen yang dianggap melakukan incest dan infanticidum. [6] Persoalannya mengenai ateisme yang mengemukakan bahwa dewa-dewi hanyalah manusia atau setan. Maka persembahan atau kurban bukanlah sikap ateisme, melainkan sikap yang tepat. Selain itu, karya ini juga memuat tentang crimen laesae maiestatis dan sikap anti Negara. Dikatakan bahwa para dewa orang kafir tidak menyumbangkan sesuatu bagi kepentingan negara, sebaliknya agama Kristen dengan sikap bijaksana memberikan sumbangan bagi negara lewat doa-doa dan sikap hidup yang dianggap bersifat keilahian. c) De anima Karya ini dikarang sesudah tahun 203 yang mengetengahkan pertemuan platonis dan agama Kristen. Karya ini dibagi dalam tiga bagian, yakni pengatar, bab satu dan bab dua. Bagian pertama, Tertulianus mengkritik ide Fedone dan filsafat platonis. Bagian pertama didasarkan pada kitab Kejadian 2:7, yang mengatakan bahwa jiwa berasal dari Allah. Tertulianus menerima pembagian platonis atas jiwa: rasional dan irrasional. Allah telah menciptakan jiwa rasional dan sesudah kejatuhan dalam dosa lahir bagian yang irrasional. Bagian kedua dari karangan ini ditujukan untuk melawan platonis mengenai preeksistensi jiwa. Persoalannya mengenai keberadaan jiwa sebelum dan sesudah kelahiran manusia. dan pada bagian ketiga menjelaskan mengenai keberadaan jiwa sesudah kematian manusia. Di sini, Tertulianus sepaham dengan penafsiran tradisional tentang tidur sebagai mimpi dan juga sebagai simbol kebangkitan. Tertulianus menolak pendapat bahwa jiwa orang yang tidak dikubur, yang bunuh diri dan yang dibunuh masih berkeliaran di atas bumi. d) De praescriptione haereticorum Karya ini bersifat polemik atas kaum heretik, yang berangkat dari iman Kitab Suci dan Tradisi, sebab kaum heretik telah memalsukan Kitab Suci dan keberadaan mereka di luar tradisi Gereja. e) Adversus Marcionem Karya ini dibagi dalam dua bagian, bagian pertama bersifat teologis yang melawan Marcion tentang eksistensi Allah hingga kedatangan Yesus Kristus. Menurut kaum Marcion, Allah tidak ada hubungannya dengan Allah pencipta dan penebus. Mereka menolak bahwa penebus tidak mungkin menjadi manusia untuk membebaskan manusia dari dosa. Dia hanya mengambil rupa manusia untuk menyelamatkan. Sedangkan bagian kedua bersifat eksegetis yang melawan kitab suci Marcion yang tidak memiliki hubungan dengan Allah Pencipta dalam Perjanjian Lama. f) Adversus Praxean. Karya ini memuat argumennya melawan kaum Monarkhianisme. Penjelasan sederhana berangkat dari konsep monarki, Ia menolak pandangan bahwa konsep Trinitas dan Unitas Allah yang disamakan dengan kaisar Romawi bersama anak-anaknya. Bagian kedua memuat penjelasan rasional, yang berdasar pada Kitab Suci. Ia melawan pandangan bahwa Allah yang dilihat pastilah bukan Bapa, dengan merujuk pada “Akulah Tuhan dan tiada yang lain” (Yes 45: 5), “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30) dan “Siapa yang melahat Aku, melihat Bapa” (Yoh 14:9-11). Hasil dari karya-karyanya sangat menentukan bagi pemahaman Gereja di kemudian hari. Salah satu sumbangannya yang terbesar adalah di bidang teologi Trinitas dan dialah orang pertama yang memakai istilah “Trinitas, Substansi dan Persona”. [7] 4. Latar Belakang Pemikiran Ajaran Tertulianus tentang Roh Kudus tertuang dalam ajarannya tentang Trinitas atau Tritunggal. Pemikirannya tentang Roh Kudus memberikan sumbangsih yang besar bagi perkembangan dogma tentang Tritunggal selanjutnya. Kepada kita diperkenalkan istilah satu “substansi” dan tiga “persona”, dalam Bahasa Latin untuk memperkenalkan misteri agung ini. [8] Ia juga berbicara tentang Roh Kudus, dengan menunjukkan ciri pribadi, persona, dan keilahian-Nya. Seluruh ajarannya tertuang dalam makalahnya (31 pasal) melawan Praxeas. Dalam pasal II dan III, ia mulai membahas doktrin Tritunggal dengan menyoroti Unitas kepada Trinitas dan Trinitas dalam Unitas. Tentang Unitas kepada Trinitas, Tertulianus menegaskan bahwa Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus menyatu dalam substansinya. Namun kesatuan subsantsi ilahi ini terbagi dalam tiga pribadi yakni pribadi Bapa, pribadi Anak dan pribadi Roh Kudus. [9] Tiga pribadi ini bukanlah tiga kondisi, tetapi tiga di dalam tingkatan, bukan dalam substansi tapi dalam bentuk, bukan dalam kuasa, tetapi aspek-aspeknya. Namun, Allah adalah satu dalam substansi, dalam kondisi, dalam kuasa, dan dalam kekuasaan, sampai Ia disebut sebagai Satu Allah. Tertullianus menegaskan bahwa Ketiga Pribadi (dalam pengertian tiga tingkatan, tiga bentuk dan tiga aspek) Allah, tidak berarti tiga, tetapi tetap hanya satu Allah. Allah harus diterima di dalam ekonomi-Nya (pengaturan dalam karya keselamatan di dalam diri-Nya). [10] 5. Roh Kudus 5.1 Hakekat Roh Kudus Tetulianus menuliskan bahwa hakekat dari Roh Kudus adalah (a Patre per Filium) keluar dari Bapa melalui Putra. Roh dilihat sebagai pribadi yang datang dari Allah dan Putra (a Deo et Filio). Roh Kudus dilihat sebagai cinta ilahi yang keluar dan berasal dari Bapa dan Putera. Ia mengunakan analogi seperti buah dari batang pohon dengan berpangkal pada akar; atau sama seperti aliran air dari sungai adalah yang ketiga kalau mulai dari mata air. Atau pun sama seperti titik cahaya dari sinar adalah yang ketiga, dengan bertolak dari mata hari. [11] Roh merupakan komunikasi hikmat Allah, yang mengerjakan keselamatan yang berasal dari Bapa dan Putera. Keberadaan Roh bukanlah keberadaan yang substansif, di mana Roh memiliki substansi sendiri secara terpisah dari Bapa dan Putra, melainkan ketiga pribadi Allah Bapa, Putra dan Allah Roh Kudus tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain. Mereka tetap memiliki tiga pribadi tetapi satu hakikat, satu Allah. [12] Maka kenyataan ilahi antara Bapa, Putera, dan Roh Kudus merupakan relasi cinta kasih timbal balik. Cinta kasih Bapa dan Putera berpribadi dalam pribadi ketiga. Allah Bapa dan Putera adalah juga Esa karena Roh Kudus sebagai cinta kasih “antara” mereka meniadakan segala “antara” itu sehingga menjadikan satu kesatuan dan kemahaesaan yang tak terbayangkan. Sebab dalam Roh, Bapa menyerahkan diri seutuhnya kepada Putera dan Putera juga seluruh diri-Nya seutuh-Nya kepada Bapa. [13] 5.2 Peran Roh Kudus Kisah Tertulianus dengan gerakan Montanisme mengingatkan kita akan pentingnya Roh Kudus. Tertulianus melihat peran Roh Kudus sebagai penuntun dan pemimpin ke dalam seluruh kebenaran iman Kristiani. Tertulianus yang bersimpati dengan ajaran montanisme berkeyakinan bahwa interpretasi oleh Roh Kudus tidak menumbangkan regula fidei, rumusan iman yang tidak dapat berubah. Roh Kudus memiliki daya untuk membimbing, menuntun dan mengembangkan kehidupan. Sebagai orang Kristen kita mengimani bahwa Roh Kudus adalah pembawa dan pemberi semangat dalam menghidupkan Gereja. Tanpa kehadiran Roh Kudus Gereja hanya berakhir pada rumusan doktrinal semata. Kehadiran Roh Kudus menjadikan persekutuan Kristen menjadi sebuah persekutuan yang hidup dan senantiasa berkembang terus-menerus. Gerakan Roh Kudus yang begitu kuat dan unik itulah yang memampukan orang untuk menjawab tantangan dan kebutuhan setiap zaman. Pengakuan akan peran Roh Kudus sebagai pemberi semangat dan kerunia tidak bertentangan dengan fondasi atau dasar iman kekristenan, seperti yang tertuang dalam pengakuan iman Rasuli. [14] Kehadiran Roh Kudus merupakan hasil kasih Allah di dalam kaum beriman. Kasih itu merangkum seluruh umat beriman kepada Allah dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Persekutuan umat beriman adalah buah dari Roh Kudus, karena mereka semua mengambil bagian dalam roh yang sama. Melalui kehadiran Roh Kudus, Gereja wajib membuahkan benih-benih kasih yang telah ditaburkan Allah dalam dirinya untuk saling berbagi dan menyapa orang lain sebagai saudara-saudari dalam Allah. Persekutuan kaum beriman dan realitas Roh Kudus selalu dihubungkan dengan Bapa dan Putera. Sebab “persekutuan” dalam roh yang sama diterima oleh semua dan hadir dalam semua, dan begitu Roh itu melandaskan persekutuan. Bila dihubungkan dengan Putera, realitas Roh Kudus itu disebut “rahmat”, yaitu pemberian secara cuma-cuma yang menghasilkan “pembenaran” dan pengampunan dosa. Sedangkan, bila dihubungkan dengan Bapa, realitas Roh Kudus itu adalah “kasih”, karena merupakan hasil dari prakarsa Allah. [15] Berdasarkan berbagai sumber, Tertulianus juga mempunyai sumbangan yang sangat berguna berhubungan dengan Kitab Suci terutama dalam hal eksegese. Menurutnya, Roh Kudus berkarya dalam diri para penulis Kitab Suci dan para ekseget, sehingga Kitab Suci mengalami perkembangan. Roh yang memberikan kesanggupan bagi seorang untuk memimpin dan mewartakan Kitab Suci. Dengan demikian, Kitab Suci merupakan karya Allah sendiri. Roh Kudus yang sama jugalah yang menuntun orang untuk mengerti dan memahami seluruh kebenaran yang tertuang dan Kitab Suci sendiri. [16] Roh sebagai saksi Yesus dan sebagai interpretator ekonomi keselamatan (keselamatan yang dikerjakan oleh Bapa melalui Putera dalam Roh Kudus) yang memimpin dan membimbing kita menuju jalan keselamatan. Roh berkarya bersama Bapa dan Putra dalam aksi penyelamatan umat manusia. Roh memberikan kesatuan dan kekuasaan, serta mengarakan hati manusia kepada kebaikan dan kapada yang kudus. [17] 6. Penutup Tertulianus berbicara tentang Roh Kudus, ketika ia berbicara mengenai Trinitas. Ajarannya pada masa itu termasuk juga untuk membela kebenaran iman Kristen dari berbagai aliran sesat. Bagi dia, Roh adalah pribadi yang berasal dan keluar dari Bapa dan Putera. Dengan demikian, Roh Kudus secara real tampak sebagai penghubung antara Allah dan Kristus Tuhan, dan antara Kristus Tuhan dengan jemaat-Nya. Roh Kudus sebagai pemimpin dan penuntun ke dalam seluruh kebenaran. Roh yang demikian masih sangat relevan dan diharapkan pada zaman sekarang ini yang penuh dengan kejahatan, ketidakbenaran dan ketidakadilan. Roh Kudus yang diterima oleh orang beriman melalui sakramen pembaptisan dan diperkokoh dengan sakramen penguatan hendaknya dihidupi dan diberi kesempatan untuk berkarya dalam hati manusia. Gereja sebagai umat Allah dalam era modern ini hendaknya selalu berseru “datanglah Sang pencipta, Roh Kudus” veni creator Spiritus, ke dalam hati kami. Seruan ini kiranya menjiwai setiap anggota Gereja agar selalu sadar untuk berjalan dalam kebenaran iman dan moral. Maka amat penting bagi umat, agar semangat Roh Kudus jangan sampai dipadamkan. Sebab Gereja lahir, berkembang dan akan terus eksis menuju kepenuhan eskatologis jika semangat Roh Kudus dihidupi dan dihayati oleh umat beriman dalam seluruh hidupnya. Roh Kudus adalah Allah yang aktif, yang hadir dalam diri Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus, Roh Kudus hadir secara aktif dalam jemaat. Iman jemaat tidak bisa hanya terarah pada salah satu pribadi Allah: Bapa, Putera, atau Roh Kudus saja, sebab karya penciptaan dan penebusan merupakan karya Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. BUKU SUMBER: [1]Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika 1 Allah Penyelamat (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 243. bdk. Kornelus Sipayung, Pneumatologi (Sinaksak: STFT St. Yohanes [tanpa tahun]), hlm. 2. (diktat). [2]Montanisme adalah suatu gerakkan kebangkitan rohani yang didirikan oleh Montanus (seorang kafir yang bertobat, lalu menjadi pastor) bersama dengan kedua putrinya Priskilla dan Maximilla. Ia mewartakan akhir dunia dan memandang kegiatan para nabi asketik sebagai tanda-tanda akhir zaman. Bisa dikatakan Montanisme adalah sebuah kegerakan Pentakosta pertama dalam sejarah Gereja yang menekankan ekstasi, bahasa roh dan nubuat berdasarkan karunia Roh Kudus. Gerakan ini kemudian dikutuk oleh Gereja. [Lihat. Geraldo Collins dan Edward G. Farugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 208.] [3]New Catholic Encyclopedy, vol XIII (Washington: The Catholic University of America, 1981), hlm. 1019-1020. bdk. Paus Benedictus XIV, Bapa-Bapa Gereja …, hlm. 62-63. [4]Sihol Situmorang, Patrologi: Studi Tentang Bapa-bapa Gereja Sebuah Pengantar (Sinaksak, STFT St. Yohanes [tanpa tahun]), hlm. 38-40. (diktat). [5]Sihol Situmorang, Patrologi…, hlm. 38. [6] Sihol Situmorang, Patrologi…, hlm. 38. [7]Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika 1…, hlm. 135. bdk. Paus Benedictus XIV, Bapa-Bapa Gereja, (Malang: Dioma, 2010), hlm. 62 [8]Paus Benediktus XVI, Bapa-bapa Gereja: Hidup Ajaran dan Relevansi Bagi Manusia di Zaman Kini (Malang: Dioma, 2010), hlm. 65. [9]Tertulianus, “Againts Praxeas” dalam Yohanes Quastens, Patrologi volume III, (Washington, DC: Notre Dame in the Catholic University of America), hlm. 284-285. [10]New Catholic Encyclopedy, vol XIII…, hlm. 1021. [11]Niko Syukur Dister, Teologi…, hlm. 270. [12]Paus Benedictus XIV, Bapa-Bapa Gereja…, hlm. 65. bdk. Tertulianus, “Againts Praxeas” dalam Yohanes Quastens, Patrologi …, hlm. 286. [13]A. Heuken, Ensiclopedi Gereja, jilid VII (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 2005), hlm. 136 [14]Tertulianus, “Againts Praxeas” dalam Yohanes Quasten, Patrologi …, hlm. 286; bdk. juga Niko Syukur Dister, Teologi…, hlm. 271. [15]C. Groenen, Kitab Suci Tentang Roh Kudus dan Hubungannya dengan Allah Bapa dan Anak Allah (Yogyakarta: Kanisius, 1982), hlm. 75. [16]Tertullian, Ancient Cristian Writers, (New York: Newman Press, 1959), hlm. 44. bdk. Tertulianus, “Againts Praxeas” dalam Yohanes Quastes, Patrologi …, hlm. 287; bdk juga. Niko Syukur Dister, Teologi…, hlm. 271. [17]William van Roo, Telling about God. Vol III (Roma: Editrice Pontifician Universita Gregorian, 1989), hlm. 38. bdk. Nico Syukur Dister, Teologi…, hlm. 271.

Minggu, 27 Mei 2012

MINGGU PRAPASKAH IV: ANAK MANUSIA YANG DITINGGIKAN (Oleh: Erick M. Sila)

Minggu, 18 Maret 2012 Bacaan I : 2 Taw 36:14-16.19-23 Bacaan II : Ef 2:4-10 Injil : Yoh 3:14-21 Bapa, ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Injil hari ini mengajak kita untuk ikut mengalami apa yang dirasakan oleh Nikodemus. Dengan demikian, kita dapat mengikuti pembicaraan dengan Yesus sendiri. Yesus menegaskan bahwa hanya orang yang dapat dilahirkan kembali yang dapat melihat kerajaan Allah. Pewartaan Yesus dengan melakukan banyak mujizat tidak lain adalah ingin menyatakan kerajaan Allah. Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana orang setua saya dapat lahir kembali? Tentunya kita tidak boleh berpikir secara harafiah. Yang dimaksudkan Yesus mengenai kelahiran kembali ialah lahir kembali secara rohani. Untuk mengalami bagaimana hidup di dalam roh, jalannya ialah hidup setia di dalam Yesus. Dalam bacaan-bacaan yang baru saja kita dengar, dikatakan bahwa di padang gurun, Musa meninggikan ular tembaga agar orang-orang Israel yang memandang ular tersebut selamat dari pagutan ular-ular tedung yang didatangkan Allah kepada mereka. Allah menimpakan murka ini kepada bangsa Israel karena dosa pemberontakkan mereka. Ular yang ditempatkan di taman Eden merupakan lambang iblis yang menjanjikan kehidupan kepada Adam dan hawa tetapi membawa kematian. Maka, sekarang Yesus, Putera Allah sendiri, melaksanakan lambang itu di salib sebagai tanda kematian. Namun, Ia tidak tinggal saja dalam kematian itu, tetapi Allah telah membangkitkan dia dari antara orang-orang mati. Barang siapa yang memandang Dia dengan penuh kepercayaan akan ikut ambil bagian dalam kemenangan atas maut dan memiliki hidup sejati karena Dia. Kehidupan baru yang berasal dari Allah. Kehidupan itu hanya diberikan karena kematian Putera-Nya yang diangkat tinggi-tinggi di kayu salib. Yesus pun mengatakan bahwa Ia harus “ditinggikan” jika dunia ingin diselamatkan dari maut. Kehidupan ilahi yang diterima manusia berkat kematian Yesus dan hidup setia di dalam iman merupakan dua kekuatan yang menghasilkan keselamatan. Dengan demikian juga jalan bagi setiap orang menuju kerajaan Allah semakin terbuka lebar. Bapa, ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Orang Isael yang telah dipagut ular harus memandang kepada ular tembaga agar bisa selamat. Manusia yang terluka akibat dosa harus memandang kepada salib Tuhan, menyesali dosanya dan bertobat. Memandang salib Tuhan berarti menyadari apa yang telah kita lakukan selama ini. Dengan demikian, kita berusaha memperbaharui diri dengan memohonkan bantuan rahmat dari Tuhan. Dalam masa prapaskah ini, kita diberi kesempatan untuk melihat kembali, bukan saja melihat Dia yang ditinggikan di salib, melainkan kita harus percaya kepada-Nya agar kita dapat memperoleh hidup yang kekal. Percaya berarti kita harus meninggalkan cara hidup yang lama dan mengenakan cara hidup yang baru di dalam Kristus Yesus. Untuk mencapai tanah air terjanji, kita harus tetap mengarahkan pandan kita kepada salib dengan penuh iman, tetap berharap akan kedatangan-Nya dan tentulah dengan hidup di dalam kasih Tuhan. Pada salib kita memandang kasih Allah. Lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan betapa besar kasih Allah itu kepada kita umat-Nya. Salib adalah lambang cinta sejati, kerendahan hati, dan rela berkorban. Cinta sejati: “Karena begitu besar cinta Allah akan dunia ini, maka Ia mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal untuk menebus dosa manusia”. Rela berkorban: “Tiada kasih yang lebih besar dari kasih seorang sahabat yang rela mengorbankan diri-Nya demi sahabat-sahabatnya”. Krendahan hati: ”Ia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia”. Sungguh luar biasa bukan? Percaya kepada Yesus berarti membuka hati, menerima kasih dan kurban Allah. Hanya dengan membuka hati, Yesus dapat tinggal di dalam hati kita. Dengan demikian, kasih dari Yesus sendiri yang ada dalam hati kita, mendorong kita untuk percaya dan mengasihi Allah. Maka kita pun akan semakin berani dan dikuatkan untuk menjadi pewarta-pewarta Injil Allah di tengah dunia. Barang siapa memilih Allah, dia akan diangkat menjadi anak Allah oleh Putera-Nya. sebaliknya, barang siapa tidak memihak Allah, ia sendiri tidak mengambil bagian di dalam Putera. Maka dengan demikian, ia akan jauh dari Allah dan Kerajaan-Nya. Nah…, mana yang kita pilih, memihak Allah atau memihak setan? Marilah kita merenungkan pertanyaan ini selama masa tobat kita. Semoga. AMIN.

MINGGU PRAPASKAH II: PENGALAMAN PUNCAK (Oleh: Erick M. Sila)

Minggu, 4 Maret 2012 Bacaan I : Kej 22:1-2.19a:10-13.15-18 Bacaan II : Rm 18:31b-34 Injil : Mrk 9:2-10 Bapa, ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, berada di puncak sebuah gunung yang tinggi sungguh menjanjikan sebuah kenikmatan tersendiri. Walaupun dengan susah payah untuk mencapainya, kita tetap berusaha untuk mencapai puncak gunung itu. Keletihan akan sirna apabila kita telah mencapai puncak. Dari ketinggian, kita dapat melihat keindahan alam yang terhampar luas di bawah sana. Keindahan terbentuk akibat percampuran aneka warna dan bentuk. Semuanya berpadu dalam satu keindahan yang menakjubkan. Pengalaman puncak dapat membuat orang tidak mau turun lagi. Hal ini disebabkan karena keindahan, ketenangan dan kesejukan, diberikan di sana tanpa batas. Di puncak orang akan jauh dari segala kegelisahan. Akan tetapi, mau tidak mau kita harus turun lagi. Kita tidak bisah tinggal tetap di atas. Walaupun demikian, pengalaman indah yang singkat itu cukup memberikan kekuatan kepada kita untuk turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan hidup di lembah kehidupan. Di atas gunung Yesus berubah rupa disaksikan oleh para murid (Petrus, Yakobus dan Yohanes), dan pakaian-Nya putih bewrkilauan. Warna putih di sini menunjukkan warna kemuliaan Tuhan yang meraja. Penginjil melukiskan Yesus sedang berbicara dengan Musa dan Elia. Musa melambangkan perjanjian antara Allah dan umat-Nya, sedangkan Elia adalah seorang nabi yang memperkenalkan Mesias kepada bangsa Israel (termasuk kita). Keduanya membuka jalan yang kedatangan-Nya menjadi pemenuhan bagi kerinduan mereka. Perubahan rupa Yesus menandakan bahwa zaman baru, zaman kebenaran dan keselamatan telah datang. Itulah kebangkitan: Paskah Yesus. Ketiga murid, Petrus, Yakobus dan Yohanes mendapat anugerah istimewa untuk menyaksikan pewahyuan agung tersebut. Mereka senang, antusias, bahkan mau mempertahankan, dan menikmati terus keadaan tersebut. Tetapi sebtulnya di balik itu, mereka belum menangkap rahasia agung Sang Mesias. Karena dalam suasana ketakutan, mereka tidak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat. Maka Petrus berkata: “Rabi… baiklah kami dirikan tiga kemah…”. Kemuliaan Yesus dipahami secara sepihak. Para murid lebih suka mengikuti Yesus yang mulia dari pada berjerih payah bersama Yesus meniti Jalan Salib. Yesus melihat bahwa bagi para murid peristiwa itu tidak akan sia-sia sepenuhnya. Dalam suasan itu terdengarlah suara: “Inilah Anak yang Ku kasihi, dengarkanlah Dia”. Pernyataan inilah yang menbuat pewahyuan itu menjadi kenangan bagi para murid. Para murid tetap mengikuti Yesus sampai selesai. Kemudian Yesus mengajak para murid untuk turun. Yesus menyadarkan mereka bahwa kini saatnya untuk turun, belum saatnya untuk naik. Turun berarti kembali ke dalam hidup sehari-hari yang biasa. Kembali kepada kerendahan seorang Hamba Yahwe yang terus bergerak menuju jalan salib penderitaan-Nya. Untuk itulah Yesus melarang mereka untuk tidak memberitahukan apa yang telah mereka lihat kepada siapapun, karena saat-Nya belum tiba. Inilah pertobatan dan kesaksian perubahan kita. Dengan mendengarkan Allah yang bersabda lewat hidup kita setiap hari, kita berharap makin dekat dengan-Nya. Marilah kita berseru bersama Samuael ketika Allah mendatangi dan memanggilnya: “bersabdalah, Ya Tuhan, hambamu mendengarkan”. (1 Sam 3:9-10). AMIN.

MINGGU BIASA VII: Dokter Ajaib (Oleh: Eric M. Sila)

Minggu, 19 Februari 2012 Bacaan I : Yes 43:18-19.21-22 Bacaan II : 1 Kor 1:18-22 Injil : Mrk 2:1-12 Bapa, ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sakit dan penyakit manusia sebenarnya juga tidak lepas dari dosa; dosa ketidakteraturan hidup, kelalaian, penyelewengan, sakit hati, dendam dan sebagainya. Maka tatkala orang lumpuh, dalam bacaan hari ini, dibawa kepada Yesus, yang pertama dilakukan Yesus adalah mengampuni dosanya. “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni”. Penyembuhan total akan menyusul setelah secara batiniah dan rohaniah kita disembuhkan terlebih dahulu. Akan tetapi, bapa, ibu, saudara-saudari, mengapa para ahli taurat meragukan-Nya? Itu karena mereka belum sepenuhnya menghargai Yesus sebagai guru baru. Mereka memang hadir dan turut menyaksikan bagaimana Yesus mengajar, tetapi hati mereka belum sepenuhnya belum menerima, bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Keraguan itulah yang membuat mereka mempertanyakan kuasa mengampuni Yesus. Yesus mengoreksi mentalitas ini, karena keraguan akan menghantar mereka lebih jauh, yakni tidak menerima sama sekali kehadiran-Nya sebagai kepenuhan janji keselamatan Allah. Para ahli taurat kurang senang mendengar Yesus mengeluarkan kata-kata mengampuni orang tadi. Mereka berpegang pada pendapat bahwa dosa hanya dapat diampuni oleh Allah. Tetapi mereka tidak melihat jalan apa yang dipakai Allah untuk memberi pengampunan. Para ahli taurat menutup pikiran mereka sendiri. Keraguan sering menjadi gerbang menuju dosa ketidakpercayaan. Meragukan kehendak Allah berarti meragukan niat baik-Nya. Padahal keselamatan itu hanya dapat diberikan kepada mereka yang berkehendak bebas. Mari kita lihat iman orang-orang yang membawa orang sakit tadi. Ketika mereka mendapatkan bahwa tidak ada jalan lagi untuk lebih dekat dengan Yesus, sebab banyak orang memenuhi jalan, sehingga orang lumpuh tadi tak dapat masuk. Maka, mereka mulai membongkar atap. Tidak kita ketahui siapa orang-orang itu. Tetapi Markus memberitahukan kepada kita bahwa Yesus “Melihat iman mereka” (ay. 5). Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah Markus hendak mengatakan bahwa iman orang-orang yang membawa si lumpuh itulah yang mendatangkan kesembuhan bagi si lumpuh? Jawabannya adalah ya. Lebih menarik lagi bila diamati bahwa dalam kisah ini sebenarnya Yesuslah yang menghubungkan iman orang-orang tadi dan keadaan si lumpuh. Ia melihat iman empat orang ini. Yesus menyapa orang lumpuh tadi denga kata “Nak!”. Ini merupakan nada yang penuh pengertian. Yesus menyapa orang yang tak bisa berjalan, kemanusiaan yang tak utuh, ciptaan yang cacat. Di sini iman keempat orang tadi membuat Yesus bisa mengatakan kepada si lumpuh bahwa kekuatan-kekuatan yang mengikat dan melumpuhkan itu bisa disingkirkan. Oleh siapa? Tak usah tergesa-gesa kita katakan oleh Yesus. Memang Yesus adalah Sang dokter ajaib, namun yesus melihat iman mereka Akan Allah. Iman itulah yang mulai melepaskan ikatan-ikatan dosa tadi. Solidaritas iman menjauhkan kekuatan-kekuatan jahat. Melihat kesembuhan si lumpuh, orang-orang takjub dan mengucapkan terpujilah Allah, seruan yang juga mengungkapkan rasa lega. Mereka juga mengalami kemerdekaan yang kini dinikmati oleh si lumpuh tadi. Maka, setelah mengampuni dosanya, Yesus mengatakan, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang lumpuh yang disapa itu pun sembuh dari kelumpuhannya. ‘Bangunlah’ berarti ‘bergeraklah’ atau ‘berjalanlah’. ‘angkatlah tempat tidurmu’ berarti kerjakanlah atau laksanakanlah apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabmu. ‘pulanglah ke rumahmu’ berarti kembali ke tugas pokok, panggilan, jabatan, fungsi yang telah anda terima, jangan menyeleweng atau memberontak, melainkan setialah. Peristiwa Injil hari ini kiranya mengingatkan kita akan bahaya iman tersebut. Amin. • Refleksi: Seperti ahli-ahli taurat, kita sering ragu akan panggilan Tuhan. Pertanyaan yang sering menggema di hati saya adalah apakah saya layak menjadi pekerja di kebun anggurnya? Pertanyaan ini perlahan - lahan mulai terjawab walaupun belum 100%. Dalam kehidupan sehari-hari, saya merasakan bahwa Tuhan benar-benar memanggil saya. Melaui studi, karya, kerasulan, doa bersama, dan doa pribadi, saya menemukan ada sesuatu kekuatan lain yang saya sendiri tidak mengerti. Segala tugas itu berjalan dengan lancar tanpa hanbatan apapun. Ini saya rasakan sebagai anugerah dari Tuhan. Berdasarkan pengalaman yang saya alami di atas, saya mulai sadar bahwa Tuhan benar-benar memanggil saya. Walaupun demikian, saya harus tetap berusaha. Melakukan segala tugas dengan senang hati dan tidak lupa berdoa. ini adalah komitmen yang saya buat demi tugas mulia itu. Doa adalah kekuatan bagi saya. Dalam doa pribadi maupun bersama, saya kembali diteguhkan dan dikuatkan. Melalui bacaan hari ini, saya kembali disadarkan untuk melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabmu saya sebagai calon imam. Melalui kalimat ‘Pulanglah ke rumahmu’ saya disadarkan untuk kembali ke tugas pokok, panggilan, yang telah saya terima, jangan menyeleweng atau memberontak, melainkan setialah. Inilah perintah Tuhan bagi sauya yang harus saya lakukan sekarang dan disini tanpa menunda-nunda waktu.

MINGGU BIASA V: Sakit? Butuh Dokter Dong…(Oleh: Erick M. Sila)

Minggu, 5 Februari 2012 Bacaan I : Ayub 7:1-4.6-7 Bacaan II : 1 Kor 9:16-19.22-23 Injil : Mrk 1:29-39 Bapa, ibu, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, dalam Injil hari ini kita mendengar bagaimana Yesus memyembuhkan ibu mertua Petrus yang sakit. Kemudian, walaupun hari suda mulai gelap, saat orang seharusnya beristirahat, Yesus masih bersedia menolong orang-orang yang sakit. “maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan” (Mrk 1:33-34). Yesus bertindak sebagai seorang dokter. Dalam perkikop diatas, penginjil tidak menjelaskan mengapa Yesus mau berbuat demikian. Namun kita dapat menduga bahwa Yesus berbuat demikian karena ia mencintai orang-orang yang menderita. Yesus ingin membebaskan keluarga-keluarga yang mengalami penderitaan dengan menyembuhkan mereka yang sakit. Dengan demikian betullah apa yang dikatakan oleh St. Paulus dalam bacaan kedua hari ini yakni senasib dan sepenaggungan dengan orang yang menderita untuk menarik simpati mereka. Namun, Yesus berbuat lebih dari itu, Yesus malahan membebaskan mereka dari penderitaan, mengubah duka cita menjadi suka cita karena tertolong dari penyakitnya. Melalui pekerjaan yang mulia ini, Yesus tidak meminta imbalan jasa atau upah seperti Paulus yang juga tidak meminta upah demi pewartaan Injil. Yesus menyembuhkan mertua Simon Petrus. Tentu kita bisa membayangkan bagaimana senangnya Yesus bahwa ibu mertua Simon yang telah disembuhkan dari demamnya, kemudian melayani Yesus. Sikap “Tahu terima kasih” kepada Tuhan telah ditunjukkan oleh ibu mertua Simon. Kiranya juga patut kita kembangkan dalam kehidupan kita setiap hari. Selanjutnya kita telah membaca dan mendengar bahwa “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Mrk 1:35). Penginjil tidak menjelaskan mengapa Yesus berdoa. Dalam bagian Injil lain, kita temukan juga bagaimana Yesus berdoa (Mrk 6:46; Mrk 14:32-34), yaitu pada saat-saat penting, saat orang-orang memahami secara keliru tugasnya sebagai Mesias. Maka ketika Yesus diberitahu bahwa Ia dicari orang-orang, Yesus malah pergi menghindar, pergi ke tempat lain. Di sini Yesus mau mengajarkan juga kepada kita agar kita tidak melekatkan hati kita pada suatu tempat, suatu benda dan sebagainya. Jika suatu tempat menyenangkan bagi kita, kita memilih tetap tinggal di situ, dan jika tidak menyenagkan, maka kita akan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Yesus tidak demikian, Yesus tidak mau terikat pada suatu tempat, sebab tugas perutusan-Nya adalah untuk semua orang. Simon dan para murid yang lain rupanya mengharapkan bahwa Yesus tetap tinggal di Kapernaun dan memanfaatka kepopuleran-Nya karena Dia dapat mengusir banyak setan dan menyembuhkan banyak orang sakit. Kita juga terkadang seperti Simon dan para murid lainya itu. Kita selalu mengharapkan yang enak-enak saja. Kita lebih mengikuti orang-orang yang memiliki nama populer dan sebagainya. Akan tetapi, para murid belum mengerti akan misteri keselamatan yang sesungguhnya. “Marilah kita pergi ke kota-kota lain yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itulah Aku datang” (Mrk 1:38). Injil hari ini juga mengajak kita semua untuk mencontoh Yesus, bagaimana Dia “menyapa” orang-orang dengan menyembuhkan penyakit mereka; namun Ia juga tidak mau “diikat” supaya tetap bebas menjalankan tugas perutusan-Nya. Di sela-sela kesibukkan-Nya, Yesus selalu berdoa. Mudah-mudahan kita semua, umat sekalian yang hadir di sini juga tidak pernah melupakan doa, di tengah kesibukan sehari-hari, sebab dalam doa kita menemukan kekuatan baru, menemukan inspirasi baru umtuk lebih maju, lebih berkembang terutama dalam iman. Semoga dengan pewartaan Injil dan teladan Yesus Kristus kepada kita hari ini, tidak berlalu begitu saja, melainkan marilah kita merenungkannya di dalam hati kita masing-masing dan mengamalkannya dalam setiap langkah hidup kita. Semoga. Amin.